…bekas lapangan udara di Pulau Subi sudah menjadi hutan rimba tinggal tiang-tiang dan besi tua peninggalan Jepang.

Ilustrasi
Satu-satunya lapangan udara jepang sebagai pertahanan di sebelah Natuna adalah Pulau Subi, yang di bangun awal tahun 1942 yang mengerahkan tenaga rakyat Subi sebagai Rodi sampai lapangan udara tersebut selesai. Mendengar berita bahwa pasukan Belanda sudah berada di Ranai, Pasukan Marinir Jepang yang berada di Pulau Subi mulai keluar dari Subi secara bertahap. Dan Gelombang terakhir mereka terpergok dengan pasukan udara Belanda yang sekonyong-konyong melintas di atas Pulau Subi dengan menjatuhkan bom dari udara sehingga lapangan udara Pulau Subi Rusak Berat.
Dengan seribu akal tentara Jepang mencari jalan keluar dan menemui Datuk Kaya Pulau Subi minta bantuan kepada rakyat Subi agar menyerahkan songkok (kopiah) kepada tentara jepang yang tinggal beberapa orang saja untuk menyamar sebagai orang melayu Pulau Subi. Dari Pulau Subi mereka menuju ketempat yang sangat di rahasiakan, maka pada malam hari dengan menggunakan sampan berciau menuju ketempat yang sudah di arahkan dan tidak ada seorangpun tentara Jepang yang tinggal. Hingga saat ini lapangan udara Pulau Subi menjadi hutan belukar.
Pulau Subi terletak di sebelah tenggara Pulau Bunguran / Ranai dan sebelah utara Pulau Serasan. Jarak antara Pulau Subi dengan Ranai sekitar 70 mil dan Pulau Serasan dengan Pulau Subi sekitar 35 mil. Pada waktu Ex. Kewedanan Pulau Tujuh masih berstatus District, Pulau Subi di masukkan dalam satu wilayah dengan Onderdistrict Serasan yang di kepalai seorang Amir (camat) pada waktu itu.
Sekarang Pulau Subi sudah di mekarkan menjadi sebuah kecamatan (Kecamatan Subi). Pulau subi inilah yang di incar oleh Jepang karena di anggap strategis sehingga di bangun sebuah lapangan udara Jepang tahun 1942 sebagai pusat pertahanan udara Jepang di Kepulauan Natuna sedangkan di Terempa sebagai tempat tentara marinir Jepang dan pasukan Jutai.
Sekarang bekas lapangan udara di Pulau Subi sudah menjadi hutan rimba tinggal tiang-tiang dan besi tua peninggalan Jepang. Pulau Subi sudah dikenal International dalam hal sejarah zaman Jepang maupun zaman Hindia Belanda dimana pernah terjadi sebuah kapal milik asing pecah di depan Pulau Subi pada tanggal 13 Desember 1966 pukul 1 (satu) siang. Kapal tersebut bernama “PATHOL SALAM” dipukul ombak dan bertahan selama 9 (sembilan) jam dan pukul 10 malam baru sampai di pinggir pantai Pulau Subi.
(Makalah : Seminar Sejarah Riau Desember 2003 oleh: Darmiati Jkt). Proses verbal ini disimpan diarsip nasional di Jakarta untuk dijadikan bukti dalam sejarah tingkat Nasional.
Sumber :
Imbas Perang Pasifik di Kepulauan Anambas Natuna (Kepulauan Riau)
Oleh Wan Tarhusin, Bsc.
Masih.
Datang aja ke subi.
- Permalink
wah..sy tertarik dg ceritanya..apakah msh ada sisa2 bangkai pesawat terbang atau photo2nya kondisi saat ini? salam
- Permalink