Tag Archives: asal usul

Sejarah Koperasi Ahmadi & Co

Koperasi Ahmadi & Co berdiri pada tahun 1324 H (1906 M) dipelopori oleh Raja Haji Ahmad bin Raja Haji Umar, dimulai di Pulau Midai tahun 1324 H/ 1906 M. Tahun 1330 H/1912 M Raja Ali/Tengku Selat menerima penyerahan pimpinan Syarikat Ahmadi & Co. Midai dari Raja Haji Ahmad, kerana Raja Haji Ahmad akan berangkat pindah ke Mekah.

Koperasi Ahmadi & Co
Logo Koperasi Ahmadi & Co

Latar belakang berdirinya serkah (koperasi) bermula saat itu wilayah Pulau Tujuh (sekarang: Kabupaten Natuna ) merupakan gudang kelapa kering terbesar di Kerajaan Riau Lingga, sehingga bermunculan Sekah-serkah (koperasi) di wilayah Pulau Tujuh seperti koperasi yang pertama kali di dirikan adalah “Syarikat Natoena Co Sedanau”, tahun 1318 H yang di pelopori oleh Amir Raja Idris, kemudian menyusul “Syarikat Ahmadi & Co” di Midai tahun 1324 H (1906) oleh Raja Haji Ahmad bin Raja Haji Umar dan “Syarikat Terempa tahun 1332 H (1913) yang di beri nama”Syarikat Maatschappailijk Kapital“. Diantara ketiga syarikat tersebut di atas hanya syarikat Ahmadi & Co yang bisa bertahan hingga sekarang di era reformasi Indonesia.

Tanggal 28 Rajab 1332 H/1913 M surat nomor 91 dan nomor 92 Raja Ali mengirim surat kepada Raja Haji Ahmad di Mekah, bahwa beliau akan mengembangkan perniagaan Syarikat Ahmadi & Co. Midai di Singapura. Dengan Akta, Midai 1 Syaaban 1333 H/14 Jun 1915 M ditetapkanlah untuk membuka cawangan Ahmadiah Pulau Tujuh yang berpusat di Palembang Road 18 B, Singapura.

Pada awalnya Koperasi Ahmadi & Co merupakan agen pengumpulan hasil bumi dan laut, selanjutnya berkembang aktif dalam ekspor dan impor dalam berbagai jenis produk dan jasa. Setelah pindah ke Minto Road 50, Pada hari Jumaat, 22 Rabiulawal 1339 H/3 Desember 1920M mufakat pula mendirikan percetakan. Perusahaan di Minto Road 50 itu berkembang terus dan pada tahun 1926 M Ahmadiah membeli sebuah rumah no. 82 Jalan Sultan Singapura, kemudian nomornya diganti menjadi no. 101 Jalan Sultan.

Yang menjadi catatan penting dalam sejarah saat Bung Hatta terkagum-kagum akan serkah (Koperasi) Ahmadi & Co, sebagai sebuah lembaga ekonomi pertama di Nusantara yang manajemennya sangat rapi. Koperasi yang di beri nama “Ahmadi” tahun 1906 tersebut oleh Bung Hatta di nyatakan Koperasi yang tertua di Indonesia.

1. Kabupaten Natuna Sebelum Kemerdekaan
2. Ide Koperasi ,Bung hatta Bermula Di Natuna. Media Kompasiana.
3. Sumber buku “Imbas Perang Pasifik di Kepulauan Anambas Natuna (Kepulauan Riau)” oleh Wan Tarhusin, Bsc.

Pulau Midai

Pulai MidaiLuas pulau Midai ± 18 km dan dapat di kelilingi dengan berjalan kaki atau kendaraan bermotor. Pulau Midai merupakan salah satu wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Natuna. Seperti masyarakat Natuna pada umumnya, mata pencarian masyarakat di sana adalah menjadi Nelayan, berdagang dan berkebun.

Pulau yang di kelilingi Laut China Selatan ini hanya memiliki pelabuhan kecil yang hanya bisa di singgahi kapal perintis. Untuk Kapal-kapal besar seperti KM. Bukit Raya yang melayani rute pelayaran di Kabupaten Natuna tidak bisa merapat menyebabkan kapal harus berlabuh agak jauh ke tengah Laut untuk menunggu penumpang yang  datang dengan pompong-pompong kecil.

Pulau Midai terkenal dengan penghasil kopra sejak zaman Kesultanan Riau Tahun 1886, selain itu Midai juga memiliki catatan sejarah memiliki Koperasi Tertua di Indonesia, yaitu Koperasi Ahmadi & Co oleh Bung Hatta di nyatakan sebagai Koperasi yang tertua di Indonesia.

Sepanjang kita mengelilingi pulau Midai terdapat nama-nama kampung seperti: Sabang Barat, Sabang Muduk Batu Belanak, Air Kumpai, Air Salor, Tanjung Lampung, Air Bunga, Bakau Besar, Bakau Kecil, Jambat, Arung Limau, Suak Midai, Pian Tumu, Sebelat, Air Putih, Air Pancur, Pian Rumput, Tang Keramat, Suak Besar.

Wilayah Kecamatan Kabupaten Natuna

Di dalam sejarah Kabupaten Natuna yang dahulunya bernama Pulau Tujuh yang tergabung dalam Kabupaten Kepulauan Riau dengan Ibu Kota Kabupaten saat itu berada di Tanjung Pinang. Sekarang Natuna merupakan salah satu Kabupaten baru dari hasil pemekaran Wilayah Kabupaten Kepulauan Riau, yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang Nomor 53 Tahun 1999, yang awalnya terdiri dari Tujuh Kecamatan; yaitu Kecamatan Bunguran Timur, Bunguran Barat, Jemaja, Siantan, Midai , Serasan dan Palmatak yang diresmikan pada tanggal 12 Oktober 1999, sejak itu Natuna memiliki Pemerintahan Daerah sendiri dengan Ibu Kota Kabupaten di Ranai.

Seiring dengan pemekaran kecamatan yang bertujuan untuk memperpendek rentang kendali, muncul aspirasi para tokoh dan pemuda Anambas untuk menjadikan gugusan Kepulauan Anambas sebagai daerah otonomi Sendiri. Melalui perjuangan yang cukup panjang baik di pusat maupun di Daerah, Kabupaten Kepulauan Anambas akhirnya terbentuk melalui Undang-undang No. 33 tahun 2008 tanggal 24 Juli 2008 Yang terdiri dari 6 Kecamatan yaitu Kecamatan Siantan, Kecamatan siantan Timur, Kecamatan Siantan Selatan, kecamatan palmatak, kecamatan Jemaja dan kecamatan jemaja Timur. Di Tambah dengan 1 ( satu) Kecamatan yaitu kecamatan Siantan Tengah yang di bentuk berdasarkan Keputusan Bupati Kabupaten Natuna No. 17 Tahun 2008 dengan cakup wilayah administrasi Desa Air Air Asuk, Desa Air Sena dan Desa Air Siantan.

Setelah Anambas terbentuk menjadi sebuah Kabupaten, maka pemerintah daerah Kabupaten Natuna melakukan pemekaran wilayah kecamatan secara bertahap yang saat ini menjadi 12 (dua belas) kecamatan antara lain adalah:

  1. Bunguran Timur
  2. Bunguran Barat
  3. Bunguran Utara
  4. Bunguran Tengah
  5. Bunguran Timur Laut
  6. Bunguran Selatan
  7. Serasan
  8. Serasan Timur
  9. Subi
  10. Midai
  11. Pulau Tiga
  12. Pulau Laut

Secara Geografis Letak Kabupaten Natuna berada diantara 2° Lintang Utara sampai dengan 5° Lintang Utara dan 104° Bujur Timur sampai 110° Bujur Timur. Secara geologi kondisi fisik tanah berbukit dan bergunung batu, dataran rendah dan landai banyak ditemukan dipinggir pantai. Sedangkan ketinggian tanah beragam berkisar antara 3 sampai 500 meter dari permukaan laut dengan tingkat kemiringan antara 2 sampai 5 meter, sedangkan dataran yang rendah berada di Kecamatan Bunguran Timur dan Kecamatan Bunguran Barat. Bila dilihat dari kondisi Iklim wilayah Kabupaten Natuna sangat dipengaruhi oleh perubahan angin, musim kemarau biasanya pada Bulan Maret dan bulan Mei ketika angin dari arah utara bertiup. Musim hujan terjadi pada Bulan September sampai Februari ketika arah angin bertiup dari arah Timur dan Selatan.

Arti Nama Natuna

Pantai Sejuba
Pantai Sejuba

Kata Natuna di ambil dari bahasa Belanda yaitu “Natunae” yang artinya “alami“. Pulau Natuna bermakna pulau yang alami, di lihat keindahan panorama alamnya seperti gugusan pulau-pulau besar dan kecil di mana keindahannya begitu kental dibentuk oleh alam. Lagi pula sampai sekarang pulau-pulau yang ada di Kabupaten Natuna yang terdiri dari beberapa obyek wisata yang masih natural di wilayah kecamatan seperti Ranai, Sedanau, Pulau Subi, Pulau Laut, Bunguran Utara, Midai, dan Serasan belum banyak di sentuh oleh tangan manusia.

Kabupaten Natuna Sebelum Kemerdekaan

Sejak Pemerintahan Kolonial Belanda berkuasa di seluruh penjuru tanah air, para petinggi kolonial yang di tempati di daerah-daerah tertentu umumnya orang-orang yang berpendidikan tinggi, sekurang-kurangnya berasal dari militer dan lihai menerapkan sistem kolonialnya. Mereka-mereka ini diangkat sebagai pegawai pemerintah seperti Resident, Kontelir dan Asisten Resident termasuk juga Aspiran kantor Kontelir. Disamping ilmu pemerintahan yang mereka miliki di bidang yang lain mereka kuasai seperti : ahli pertanian (land bouw), ilmu suku bangsa dan kebudayaan (etnologi), antroplogi (ilmu manusia serta adat istiadatnya). Yang pernah meneliti tentang adat-istiadat Pulau Tujuh (Kabupaten Natuna) yaitu “Van de Tillaard” bekas Posthouder Pulau Tujuh tahun 1913.

Dibidang etnologi mereka dapat menguasai orang-orang tempatan agar mudah berunding dan di ajak kerjasama. Dan di bidang Pertanian (land bouw), mereka sangat berminat karena Indonesia memiliki tanah yang sangat subur dan dapat di tanam apa saja untuk keperluan negeri Belanda.
Continue reading