Tag Archives: ranai

Ekspedisi Harkitnas Di Puncak Gunung Ranai

Team Expedisi Harkitnas
Team Ekspedisi Harkitnas

Pendakian ke puncak Gunung Ranai merupakan gerakan moral untuk meningkatkan rasa nasionalis sebagai Bangsa Indonesia dalam rangka untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei.

Sekelompok pemuda Natuna melakukan ekspedisi ke puncak gunung Ranai (21 – 22 Mei 2011) yang di ketuai oleh Raja Darmika dan kawan-kawan yang terdiri dari Idham, Heri dan Dindah.

Masjid Agung Natuna

Masjid Agung Natuna diresmikan oleh Bupati Natuna Drs.H Daeng Rusnadi,M.Si pada tanggal 04 April 2009.  Selain sebagai tempat ibadah masyarakat Natuna, mesjid ini juga di gunakan even besar budaya dan keagamaan seperti MTQ, Natuna Art dan lain sebagainya.

Masjid Agung NatunaMasjid ini letaknya tak jauh dari pusat kota Ranai. Pemandangan Gunung Ranai menjadi latar belakang Masjid Agung Natuna ini.Lokasi masjid ini pun agak jauh dari jalan utama menuju Ranai, dan juga kita bisa melihatnya dari pesawat yang akan mendarat di Bandara Ranai. Masjid ini terlihat megah sekali, apalagi saat dilihat dari dekat.

Tidak sulit untuk menuju masjid ini, dari pusat kota Ranai kita harus menuju ke arah utara kurang lebih 2 kilometer. Letaknya di kaki Gunung Ranai. Dari jalan utama kita harus masuk lagi kedalam kurang lebih 1 kilometer tapi dari jalan ini sudah tampat bangunan masjid yang berkubah hijau dengan menara-menara disekelilingnya.

Kawasan sekitar masjid Natuna juga akan dilengkapi dengan Asrama Haji, Gedung Pertemuan, Gedung Pendidikan, Gedung Komersial, Plaza serta taman kota dan untuk saat ini sebagian bangunan di sekitar mesjid ini telah di tempati sebagai area perkantoran pemerintah Kabupaten Natuna.

Masjid NatunaMasjid ini akan terlihat indah dan megah ketika dilihat dari dekat, terlebih jika kita masuk ke dalam. Lokasi tempat wudhu ada di ruangan yang terletak dibawah, jadi ketika menaiki tangga untuk menuju pelataran masjid, kita diharuskan untuk menuruni tangga lagi untuk mengambil wudhu.  Untuk tempat wudhu laki-laki ada disebelah barat, sementara untuk tempat wudhu perempuan ada disebelah timur.

Dari tempat mengambil wudhu, kita harus naik lagi untuk menuju ruangan utama masjid. Ketika memasuki ruangan utama masjid terlihat sekali bahwa masjid ini begitu besar. Masjid yang penuh simbol dengan perikehidupan Nabi Muhammad SAW, enam kubah yang ada di puncak melambangkan Rukun Iman. Jika dilihat dari dalam masjid ini terbentang hamparan karpet merah dalam shaf-shaf yang rapi serta ornamen dalam masjid yang indah sekali. Sementara depan dan mimbar khotib terlihat natural dengan ukiran kayu yang catnya yang berwarna coklat. Beberapa shaf bagian depan khusus untuk jamaah laki-laki sementara untuk jamaah wanita ada dibagian agak belakang tak jauh dari shaf di depan dengan pembatas kayu yang tingginya tak lebih dari 1 meter. Pintu utama bermotif ukiran pun terlihat sangat besar.

Jika dilihat dari luar akan tampak Kubah Utama masjid ini dengan beberapa kubah kecil disekelilingnya dan 4 menara masjid di keempat sisinya. Namun, bukan hanya karena keluasan dan keindahan desainnya saja, tetapi juga lantaran sejak awal pembangunannya di niatkan menjadi “Center of Excellent” atau pusat kebajikan, seperti pesantren dan perpustakaan.

Air Terjun Gunung Air Hiu Ceruk

Tidak jauh dari pantai tanjung kita bisa mengunjungi objek wisata air terjun Gunung Air Hiu di Desa Ceruk. Dari pantai tanjung Natuna kita bisa menggunakan kendaraan roda dua untuk sampai di sana. Kondisi jalan yang beraspal hanya sampai desa ceruk saja, selebihnya kita akan menemui jalan berbatuan kecil yang masih bisa di tembus dengan kendaraan roda dua.

Air Terjun Gunung Air Hiu Ceruk

Desa Ceruk sendiri terkenal dengan penghasil buah Durian. Jika musim durian tiba, pengunjung dapat langsung membeli atau menikmati buah durian di rumah masyarakat yang menjual buah tersebut di sana atau langsung mencicipi di bawah pohon.

Monumen Air Terjun Gunung Air Hiu CerukKolam Air Terjun Gunung Air Hiu CerukAir Terjun Gunung Air Hiu Ceruk terdapat kolam-kolam buatan yang isinya terdiri dari berbagai macam jenis ikan air tawar yang sengaja di pelihara seperti ikan mas, ikan koi dan lain-lain. Di saat santai kita bisa memberi makan ikan – ikan tersebut dengan pakan yang telah di sediakan oleh penjaga di sana di mana kita harus membeli terlebih dahulu. Air kolam tersebut berasal dari air gunung ranai, kita bisa bebas mandi disana sambil merasakan kesegaran air dan udara gunung.

Batu Sindu

Gua Batu Sindu Natuna
Batu Sindu

Batu sindu ini mempunyai sebuah gua yang letaknya berada di Bukit Senubing tidak jauh dari kota Ranai-Natuna. Sesuai namanya lokasi yang indah ini di penuhi bebatuan yang besar di bibir bukit yang dibatasi dengan laut. Di depan batu Sindu ini kita bisa memandang Pulau Senoa dengan jelas dimana pulau tersebut memiliki cerita yang di kenal oleh masyarakat Natuna karena bentuknya mirip seperti seorang perempuan yang sedang hamil dalam keadaan berbaring. Sedangkan tidak jauh dari Batu Sindu kita juga bisa langsung melihat Batu Rusia yang terkenal dengan cerita sejarahnya karena di mana terjadi sebuah peristiwa pecah dan terdamparnya kapal orang Rusia.

Batu Sindu terkenal ceritanya dimana bermula dari sepasang kekasih yang bermadu kasih, yang mana sang pemudi berasal dari sebuah dusun di daerah Tanjung Datuk, sedangkan pemudanya jauh berada di Bukit Senubing.

Pada mulanya hubungan kasih antara keduanya begitu erat dengan ikatan janji sehidup semati sampai di jenjang pernikahan. Dalam waktu yang tidak begitu lama, keluarga kecil dari kedua belah pihak telah pula mendapatkan kata sepakat untuk memilih waktu yang tepat untuk melangsungkan peminangan dan hantaran dari pihak laki-laki yang ada di bukit Senibung (Batu Sindu) untuk berangkat ke Tanjung Datuk dimana pihak perempuan berada. Setibanya di Tanjung Datuk merekapun di sambut dengan tangan terbuka serta dengan jamuan yang memang diperuntukkan buat rombongan tersebut setelah menempuh perjalanan yang yang begitu melelahkan.

Di sinilah rencana bermula, ketika jamuan telah dicicipi bersama-sama tanpa sadar ataupun sengaja mencela, salah seorang keluarga dari pihak laki-laki terucap kata-kata yang mengatakan bahwa jamuan yang disajikan kurang sedap untuk dinikmati. Secara tak sengaja pula salah seorang dari pihak perempuan yang mendengarkan ucapan tersebut, sehingga celaan ini menyebar keseluruh keluarga dan kaum kerabat pihak perempuan. Tentu saja hal ini membuat segenap keluarga dari pihak perempuan merasa tersinggung dan seketika itu pula suasana yang seharusnya gembira berubah menjadi panas. Dengan hati yang panas pula, pihak perempuanpun membalas celaan itu dengan ucapan yang mencela pula. Keadaan sudah tidak bisa dibendung lagi, suasana sudah semakin panas dengan sumpah serapah tujuh turunan yang mana jangan sekali-kali orang yang berada di Senubing menyebut-nyebut Tanjung Datuk begitu juga sebaliknya.

Akhirnya segenap rombongan dari pihak laki-laki di usir pulang dari Tanjung Datuk. Tak hanya itu pula mereka masih di sumpah dengan sumpah serapah mendapatkan bencana dalam perjalanan pulang. Dalam kesendirian sang pemuda masih terus merindukan sang putri, demikian pula sebaliknya. Mereka berharap suatu masa kasih mereka akan dipertemukan. Namun dari waktu ke waktu harapan itu tak kunjung tiba, yang tersisa hanya legenda serta bencana yang masih di yakini masyarakat apabila kutukan itu dilanggar terlebih bila berada di laut antara Batu Sindu dan Tanjung Datuk.

Demikianlah legenda Batu Sindu, sampai saat ini masih tertanam di hati masyarakat dan masih percaya dengan kutukan tersebut, jika kita berada di Batu Sindu pantang (tabu) menyebut nama Tanjung Datuk begitu pula sebaliknya jika berada di Tanjung Datuk pantang menyebut Batu Sindu. Jika di langgar maka akan terkena suatu masalah, termasuk bagi pasangan yang sedang berpacaran di daerah tersebut apabila melanggar akan terkena masalah terhadap hubungannya atau putus.